Sayap-Sayap Diri Sejati

16 February 2009

Oleh : Gede Prama

Kendati Max Weber sudah ratusan tahun yang lalu membahas soal karisma kepemimpinan, dan memberikan beberapa sumber yang meyakinkan, toh tidak semua orang yang tahu lantas bisa memillikinya. Ratusan artikel, tidak sedikit buku yang sudah diterbitkan untuk urusan ini, namun toh masih saja ada misteri yang tersisa.

Memang kedengaran tidak populer, kalau di tengah pencaharian-pencaharian dari luar (legalitas, legitimitas, dan sejenisnya), kalau saya kemudian mengajak orang untuk mencari sumber-sumber karisma di sini : di dalam diri kita sendiri. Meminjam argumen salah seorang seniman besar India yang bernama Kabir, ‘Janganlah datang ke taman, dalam tubuh kita sudah ada taman. Duduklah di atas pohon lotus, dan temukan suka cita di sana’.

Ini berarti, ada banyak sekali sumber yang tersedia dalam diri ini. Akan tetapi, karena berbagai faktor, sumber tadi hanya terbuang percuma, kemudian kita mencarinya di luar. Sebutlah orang yang mencari kesenangan melalui harta dan wisata. Ia mirip dengan memindahkan buih ombak ke rumah. Ketika buih itu kita ambil dengan ember misalnya, ada rasa senang dan bangga, karena kita akan bisa memamerkan buih ombak kepada keluarga dan kerabat di rumah. Namun, tatkala sudah sampai di rumah, baru kita sadar yang tersisa hanya air biasa.

Dalam keheningan dan kejernihan, ingin saya bertutur ke Anda, sayapun pernah lama terlibat dalam kegiatan ‘memindahkan buih ombak’. Tidak sepenuhnya sia-sia tentunya, namun cukup memberi pelajaran, bukan hanya di luar sana tersedia sumber-sumber kepemimpinan dan suka cita. Di dalam diripun, ada sumber-sumber dalam jumlah tidak terbatas.

Ibarat sebuah pesawat terbang, tubuh dan jiwa ini sebenarnya sudah memiliki semua komponen yang memungkinkan kita manusia bisa ‘terbang’ tinggi-tinggi. Cuman, karena demikian banyak beban dan muatan tidak perlu yang kita bawa ke mana-mana, maka jadilah kehidupan banyak orang seperti pesawat yang hanya parkir di lapangan udara. Sebagian dari beban-beban tidak perlu tadi adalah rasa marah, benci, dengki, ego, nafsu dan beban-beban sejenis. Sekilas tampak, kemarahan dan kebencian memang bisa memuaskan diri kita dan memberatkan orang lain. Padahal yang sering terjadi malah sebaliknya, ia lebih memberatkan diri kita sendiri.

Pernah dilakukan wawancara mendalam terhadap lima ratus orang yang pernah terkena penyakit serangan jantung. Lebih dari delapan puluh persen responden, memiliki ‘hobi’ marah-marah. Ada sahabat seorang penulis yang iseng-iseng melakukan penelitian kepustakaan terhadap pemimpin-pemimpin besar yang legendaris. Kebanyakan pemimpin-pemimpin jenis terakhir adalah kumpulan orang-orang yang penyabar, pemaaf dan amat rajin mendidik diri untuk senantiasa mencintai orang lain. Makanya, tidak heran kalau seorang sahabat intelektual pernah menyebutkan : ‘membalas kebencian dengan cinta dan kasih sayang adalah prestasi tersulit dan tertinggi yang bisa dicapai manusia di atas bumi ini’. Ada yang bertanya, bagaimana beban-beban tidak perlu ini bisa dibuang ? Sayangnya saya bukan psikolog, namun ada sahabat yang meyakini, bahwa kemarahan dan kebencian akan semakin sering datang berkunjung kalau kita sering mengingat-ingatnya.

Ini baru berkaitan dengan pengurangan beban. Sama pentingnya dengan kegiatan mengurangi beban-beban tidak perlu, pencaharian untuk menemukan diri sejati juga sama perlunya. Pertanyaan dasar dan klisenya berbunyi : who am I ? Pohon memang tidak akan pernah tahu, dari bibit apa ia terbuat. Kuda juga tidak terlalu peduli, dalam keadaan bagaimana ibunya ketika ia berada dalam kandungan. Demikian juga dengan kucing, asal muasal dan pengalaman masa lalu bukanlah sebuah perkara yang layak untuk dicermati.

Tidak demikian halnya dengan manusia – lebih-lebih yang mau jadi pemimpin. Pengenalan dan penghayatan terhadap ‘bahan-bahan’ diri kita adalah perkara besar dalam hidup. Kondisi sang Ibu ketika kita di dalam kandungan, pengalaman masa kecil, kejadian-kejadian ekstrim dalam hidup yang hadir sebagai sinyal-sinyal dari sutradara kehidupan, alasan-alasan yang berada di balik tanjakan dan turunan kehidupan. Semua ini adalah sumber-sumber informasi yang bisa membawa kita pada pemahaman diri kita yang sejati. Sejumlah psikolog bahkan pernah merekomendasikan untuk melakukan penelusuran lebih jauh : sampai tahapan kehidupan kita sebelumnya.

Bacaan dan pengalaman hidup saya bertutur, pada titik di mana kita sudah mengenali diri kita yang sejati, badan dan jiwa ini sudah dipenuhi oleh sayap-sayap diri sejati yang siap membawa kita terbang tinggi-tinggi. Rezeki, jodoh, lahir dan mati memang bukan wewenang manusia. Tetapi masih dalam wewenang kita untuk mengisi hidup ini dengan penuh suka cita, memberi vitamin terhadap tubuh dan jiwa, atau membiarkan sayap-sayap diri sejati tumbuh dengan lancarnya. Menjadi konglomerat material memang masih wewenang Tuhan. Namun, kita bisa mencapai prestasi sebagai konglomerat spiritual – dari mana semua wibawa, karisma, dan keseganan orang lain berasal – kalau saja kita rajin berusaha menemukan bahan-bahan dari mana kita terbuat.

Kombinasi dari telah terbuangnya beban-beban tidak perlu, dengan ditemukannya kesejatian diri inilah yang kerap disebut banyak pemikir sebagai sayap-sayap diri sejati.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: