Jumanto – Tahu Kapan Harus Berbohong

7 March 2009

Seorang penjual minyak goreng keliling seperti biasa menjajakan dagangannya di tepian Sungai Citarum. “Nyak nyak minyaaak…”, teriaknya.

Di jalanan menurun tiba-tiba gerobaknya yang penuh dengan botol minyak tergelincir ke Sungai Citarum. Plung …lap… tenggelam lah gerobak kesayangannya itu. “Huuu..huuu..” menangislah dia…. “harus kuberi makan apa istriku nanti ….huuu….”

Tiba-tiba seorang Malaikat yang baik hati muncul & bertanya: “Hai Jumanto …? kenapa gerangankah sehingga engkau menangis begitu?”

Ternyata, yang namanya Jumanto … tahu juga ya itu Malaikat, “Oh, Malaikat, gerobak minyak goreng saya tergelincir ke sungai.”

“Baiklah … aku akan ambilkan untukmu. Tiba-tiba Malaikat itu menghilang & muncul lagi dengan sebuah kereta kencana dari emas, penuh dengan botol dari intan. “Inikah punyamu?” Tanya Malaikat….

“Bukan, gerobakku tidak sebagus itu, mana mungkin penghasilan saya yang 200 ribu sebulan bisa beli kereta kencana ? Itu pun sudah ditambah komisi penjualan yang cuma sedikit.”

“Malaikat itu pun menghilang lagi dan muncul dengan sebuah kereta perak dengan botol dari perunggu. Inikah punyamu?” tanyanya lagi ?

“Bukan, hai Malaikat yang baik, Punyaku cuma dari besi biasa. botolnya juga botol biasa.”

Lalu Malaikat itu pergi lagi & kali ini kembali dengan gerobak & botol si Jumanto . “Inikah punyamu..?”

“Benar ya Malaikat. Terima kasih sekali engkau telah membantu yang lemah ini untuk mengambilkannya untukku.”

Malaikat berkata : “Engkau jujur sekali, ya Jumanto. Untuk itu sebagai hadiah dari kejujuranmu aku berikan semua kereta dan botol tadi untukmu….”

“Terima kasih ya Tuhan … terima kasih ya Malaikat.”

Sebulan kemudian, Jumanto rafting bersama istrinya di sungai yang sama, Naas tak dapat ditolak, malang tak bisa dihindari, Perahu karetnya terbalik & istrinya hanyut. “Huuu, huuu, istriku, di mana engkau, “, isaknya.

“Tiba-tiba Malaikat pun muncul lagi. Kenapa lagi engkau ya Jumanto..?”

“Istri saya hanyut & tenggelam di sungai, hai Malaikat..”

“Ohhh tenang … aku ambilkan…. ” Plash, Malaikat itu menghilang & tiba-tiba muncul kembali sambil membawa Nafa Urbach, yang ada tato mawar di perutnya. Inikah istrimu?” tanya Malaikat.

“Betul,betul sekali ya Malaikat … dialah istriku.”

“Haaaaaaiiii Jumanto !!! Malaikat membentak marah. Sejak kapan kamu berani bohong? Di manakah kejujuran kamu sekarang?”

“Sambil bergetar dan berjongkok, Jumanto berkata : Ya, Malaikat, kalau aku jujur, nanti engkau menghilang lagi dan membawa Bella Saphira, kalau kubilang lagi bukan, maka engkau akan menghilang lagi dan membawa Rahma Azhari, lalu kalau kubilang bukan juga engkau menghilang lagi dan membawa istriku yang sebenarnya. Lalu.. engkau akan bilang bahwa aku jujur sekali & engkau akan memberikan ke empat-empatnya kepadaku. Buat membiayai hidup isteriku aja aku kerepotan ya Malaikat, apalagi Nafa Urbah, Bella Saphira, Rahma Azhari, aduh berat ya Malaikat.”

Malaikat pun termangu dan angguk angguk. “Benar juga kamu Jumanto, kamu realistis.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: