Memahami Nur Muhammad

12 March 2009

Nur adalah cahaya. An-Nur adalah Sang Cahaya, salah satu Asmaul Husna. Nur adalah cahaya ciptaan yang memancar dari Cahaya Allah Yang Tak Tercipta. Ketika cahaya ini masuk ke dalam hati, ia menghilangkan tatanan maujud (al kawn) yang menghilangkan mata bathin (al bashirah) sehingga ia tidak menyaksikan sesuatu selain Allah.

Nur Muhammad adalah Cahaya Muhammad. Ini singkatan dari istilah Bahasa Arab An-Nur Muhammadiyah artinya sebuah realitas dari Muhammad atau realitas ke-muhammadan yang diciptakan sebelum penciptaan alam, yakni ketika Tuhan menggenggam cahaya dan memerintahkan agar menjadi Muhammad. Jadi dari Nur Muhammad ini alam diciptakan.

Nur Muhammad ini yang memungkinkan salik melanjutkan perjalanan menuju Hakikat Muhammad. Karena sifatnya yang dingin sang salik bisa mencapainya, kalau tidak dingin maka dia akan terbakar habis.

Dari kalangan Syiah, mereka menyebutnya dalam Bahasa Parsi, Nur Muhammadi. Konsep ini dimaksudkan sebagai nilai kesempurnaan Imam mereka, ini merupakan konsep penting dalam doktrin imamah mereka. Menurut Jaffar AsShadiq “Cahaya Muhammad diwariskan kepada laki-laki terkemuka diantara keluarga kami, dan bersinar kembali dalam diri sang Imam, dan dari kita seluruh ilmu pengetahuan berasal… Al Mahdi adalah bukti kebenaran yang terakhir sebagai penutup para imam..”.

Dari konteks kalimat di atas, konsep ini mendorong lahirnya paham emanasionisme, iluminisionisme,dan pengetahuan pancaran.

Di kalangan suni, konsep ini memiliki pengertian berbeda, sebagai fondasi sebuah konsep yang menyatakan bahwa rosul adalah manifestasi dari being. Hal ini, disebutkan dalam filsafat Plato sebagai Intellect. (Source : The Concise Encyclopaedia of Islam, Cyryll glasse), tetapi menurut Kamus Filsafat, karya Lorens Bagus, mengungkapkan bahwa Intelek bersumber pada Aristotles. Intellect berasal dari bahasa Latin, dari asal kata inter artinya antara dan legere artinya mengumpulkan, menyerap atau membaca. Jadi, maksudnya kemampuan untuk mengetahui secara konseptual dan menghubungkan apa yang dimengerti.

Doktrin ini menjelaskan berasal dari mitos manichean tentang penciptaan, dimana kreator mencipta karena serangan prinsip kejahatan yang absolut. Tuhan menciptakan diri sebagai partikel cahaya yang kemudian berhambur menjadi ciptaan sebagai sarana perlindungan. Menurut paham manicheanisme, cahaya ini merupakan tuhan itu sendiri.

Paham tentang alam berawal dari cahaya, juga disampaikan oleh Pak Subuh (Subud).

Lalu bagaimana pendapat dari kalangan alim ulama maupun para sufi atau awliya, diantaranya Al Hallaj, Ibn Arabi, dan Al Jilli?

Konsep Al Hallaj

Nur Muhammad adalah adalah cahaya purba yang melewati dari Nabi Adam ke nabi yang lain bahkan berlanjut kepada para imam maupun wali, cahaya melindungi mereka dari perbuatan dosa (maksum), dan mengaruniai mereka dengan pengetahuan tentang rahasia-rahasia Illahi.

Allah telah menciptakan Nur Muhammad jauh sebelum diciptakan Adam AS. Lalu, Allah menunjukkan kepada para malaikat dan mahluk lainnya, bahwa “Inilah mahluk Allah yang paling mulia”.

Konsep Ibn Arabi

Nur Muhammad sebagai prinsip aktif di dalam semua pewahyuan dan inspirasi. Melaluinyalah pengetahuan kudus itu diturunkan kepada semua nabi, termasuk Muhammad dan santo-santo, hanya kepada Ruh Muhammad saja diberikan jawami al kalim/averba dei/firman universal.

Konsep Al Jilli

Nur Muhammad memiliki banyak nama sebanyak aspek yang dimilikinya. Ia disebut ruh dan malak apabila dikaitkan dengan ketinggiannya. Tidak ada kekuasaan mahluk yang melebihinya, semuanya tunduk mengitarinya, karena ia kutub dari segenap falak.

Ia disebut al haqq al mahluq bih, (Al Haqq sebagai alat pencipta), hanya Allah yang tahu hakikatnya secara pasti.

Dia disebut Al Qalam Al A’la (pena tertinggi) dan al Aql Al Awal (akal pertama) karena wadah pengetahuan tuhan terhadap alam maujud, dan melalui tuhan menuangkan sebagian pengetahuannya kepada mahluk.

Adapun disebut Ar Ruh Al Ilahi (ruh ketuhanan) karena ada kaitannya dengan ruh al Quds (ruh Tuhan), Al Amin (ruh yang jujur) adalah karena ia adalah perbendaharaan ilmu tuhan dan dapat dipercayai-Nya.

Perbedaan antara Nur Muhammad dan Hakikat Muhammad terletak dalam berbagai tingkatan kemenurunan (tanazul) wujud, dari kegaiban bathiniah khazanah tersembunyi hingga manifestasi lahiriah kosmos.

Demikian penjelasan dari khazanah ulama/sufi manca negara, di daerah Nusantara juga memiliki sudut pandang sendiri, seperti Ronggo Warsito dalam kitab Wirid hidayat Jati, yang boleh jadi merupakan saduran dari Muhammad Ibn Fadlilah dalam kitabnya Al tuhfah Al Mursalah ila Ruhin-nabi. Beberapa aliran spiritualis juga memiliki konsep sendiri-sendiri walaupun secara global mirip antara satu dengan yang lainnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: