Memohon Bukan Untuk Menang

21 March 2009

Suatu ketika, ada seorang anak yang sedang mengikuti sebuah lomba mobil balap mainan terbuat dari kayu. Suasana sungguh meriah siang itu, sebab, ini adalah babak final. Hanya tersisa 4 orang sekarang dan mereka memamerkan setiap mobil mainan yang dimiliki. Semuanya buatan sendiri, sebab, memang begitulah peraturannya.

Seorang anak kecil bernama Dinzi, dengan tubuh yang kecil dan Mobil tak istimewa, termasuk dalam 4 anak yang masuk final. Dibanding semua lawannya yang berbadan besar, Dinzi lah yang paling kecil, mobil’nya pun paling tak sempurna. Beberapa anak menyangsingkan Dinzi dan kekuatan mobil itu untuk berpacu melawan mobil lainnya. Yah, memang, mobil itu tak begitu menarik. Dengan kayu yang sangat sederhana, roda dari sandal jepit, tentu tak sekokoh dengan mobil mainan lainnya. Namun, Dinzi bangga dengan itu semua, sebab, mobil itu hasil kerja kerasnya.

Tibalah saat yang dinantikan. Final kejuaraan mobil balap mainan. Setiap anak mulai bersiap di garis start, untuk mendorong mobil mereka kencang-kencang. Di setiap jalur lintasan, telah siap 4 mobil, dengan 4 “pembalap” kecilnya. Lintasan itu berbentuk lingkaran dengan 4 jalur terpisah diantaranya.

Namun, sesaat kemudian, Dinzi meminta waktu sebentar sebelum lomba dimulai. Ia tampak berkomat-kamit seperti sedang berdoa. Matanya terpejam, dengan tangan yang bertangkup memanjatkan doa. Lalu, semenit kemudian, ia berkata, “Ya, aku siap!”

Dor. Tanda telah dimulai. Dengan satu hentakan kuat, mereka mulai mendorong mobilnya kuat-kuat. Semua mobil itu pun meluncur dengan cepat. Setiap orang bersorak-sorai, bersemangat, menjagokan mobilnya masing-masing. “Ayo…ayo…cepat…cepat, maju…maju”, begitu teriak mereka.

Dan tali lintasan finish pun telah terlambai, Dinzi lah pemenangnya. Ya, semuanya senang, begitu juga Dinzi. Ia berucap, dan berkomat-kamit lagi dalam hati “Terima kasih.”

Saat pembagian piala tiba. Dinzi maju ke depan dengan bangga. Sebelum piala itu diserahkan, ketua panitia bertanya. “Hai jagoan, kamu pasti tadi berdoa kepada agar kamu menang, bukan?”.

Dinzi terdiam. “Bukan, Pak, bukan itu yang aku panjatkan” kata Dinzi.
Ia lalu melanjutkan, “Sepertinya, tak adil untuk memohon dan meminta untuk menolongmu mengalahkan orang lain. Aku , hanya bermohon, supaya aku tak menangis, jika aku kalah.”

Renungan :

Mungkin, telah banyak waktu yang kita lakukan untuk berdoa. Memohon agar setiap permintaan kita dikabulkan. Terlalu sering juga kita meminta untuk menjadikan kita nomor satu, menjadi yang terbaik, menjadi pemenang dalam setiap ujian. Terlalu sering kita berdoa, untuk menghalau setiap halangan dan cobaan yang ada di depan mata. Padahal, bukanlah yang kita butuh adalah bimbingan, tuntunan, dan panduan ??

Kita sering terlalu lemah untuk percaya bahwa kita kuat. Kita sering lupa, dan kita sering merasa cengeng dengan kehidupan ini. Tak adakah semangat perjuangan yang mau kita lalui? Ujian hidup yang berat, bukan untuk membuat kita lemah, cengeng dan mudah menyerah…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: