Mengubah Mimpi Cinta Anda Menjadi Kenyataan

16 April 2009

Apakah cinta bagi Anda? Terutama bagi Anda yang belum memiliki pasangan, pernahkah Anda berpikir apakah cinta itu? Apakah cinta adalah realita atau sekadar impian?

Ketika Anda memikirkan calon pasangan, seperti apakah dia? Apakah dia fantasi atau nyata? Banyak orang yang belum bisa memilih pasangan, karena baginya pasangan ideal tersebut belumlah menjadi kenyataan saat ini.

Impian vs Kenyataan

“Saya merasa lelah…,karena apa yang saya idamkan dari seorang laki-laki tidak pernah ada,” ungkap seorang perempuan dewasa muda yang belum dapat menentukan pilihannya. Kalimat itu menarik, karena di
dalamnya terkandung ungkapan “keputusasaan” emosional dalam usaha menemukan cinta. Bagaimana kita bisa terjebak di dalam situasi ini?

Disadari atau tidak, gambaran cinta telah terbentuk sejak kita kecil. Gambaran cinta kita banyak sekali dipengaruhi oleh pola kehidupan cinta orangtua. Ada gambaran ayah-ibu yang saling mencintai dengan bahagia, ada juga gambaran ayah-ibu yang tidak “begitu” mencintai, namun tetap “menjalani” hidup, dan ada juga ayah-ibu yang cintanya “habis” dan mengalami perceraian.
Berbagai model tersebut memiliki berbagai dampak terhadap gambaran cinta kita.

Selain itu, salah satu sumber belajar kita mengenai cinta berasal dari media. Berbagai media seperti film, novel, lirik lagu, buku, dan lain-lain sedikit banyak mengajarkan kita apa arti cinta. Dalam film The Lake House, ada sebuah adegan seorang anak perempuan yang sedang terbaring di rumah sakit sedang menonton film klasik Amerika mengenai adegan cinta yang sangat romantis, yang diperankan Ingrid Bergman dan Cary Grant.

Dalam film tersebut, Ingrid telah menemukan pria impiannya dan akhirnya mereka berdua saling mencintai. Anak tersebut kemudian bertanya, “Mengapa wanita itu mencintai laki-laki tua itu?” Anak itu kemudian membandingkan situasi itu dengan hubungan cinta yang dialami ibunya. Anak itu mengatakan, “Ibu saya menjalin hubungan dengan seorang laki-laki yang botak, saya sendiri menyukainya, namun hubungan mereka tidak berlanjut. Ibu saya bilang tenang saja, akan ada laki-laki lebih baik yang akan datang.”

Kita semua memiliki gambaran cinta yang berbeda-beda. Umumnya kita membayangkan diri kita akan memiliki cinta ideal dengan pasangan idaman. Gambaran cinta kita dipenuhi dengan romantisme dan pria/wanita yang sempurna, seperti seorang Brad Pitt atau Song Hye Kyo.

Bagaimanapun gambaran cinta tersebut pada akhirnya, kita akan berada di ujung jalan di mana kita dihadapkan pada dua kondisi, yaitu tetap bermimpi atau mengalaminya dengan nyata. Kenyataannya banyak yang merasa lelah, frustrasi, bahkan apatis, untuk menggapai cinta sejatinya.

Ada yang akhirnya sampai berhenti dari keinginan untuk mencintai dan dicintai. Mereka merasa bahwa cinta impian dan pria/wanita idaman tidak akan pernah mereka temukan dalam kenyataan.

Mengubah Impian

Cinta dapat mengubah segalanya. Cinta yang sangat kuat walaupun dalam bentuk impian sekalipun mampu mengubah segala sesuatu. Banyak film yang menceritakan betapa dahsyatnya cinta yang dapat mengubah fantasi menjadi kenyataan.

Walaupun kelihatannya tidak masuk akal, namun inilah akhir cerita yang mungkin diinginkan oleh penonton. Kita semua pada akhirnya sangat merindukan untuk mewujudkan impian menjadi kenyataan.

Pertanyaannya, apakah itu mungkin terjadi dalam hidup kita? Ada dua kondisi yang terjadi dalam hal ini.

Pertama, banyak yang tetap hidup dalam impian dan tidak pernah mendapatkannya dalam kenyataan. Atau sebaliknya, kedua, ada juga yang akhirnya melarikan diri dari impian dengan mengalihkannya pada pilihan yang paling nyata, walaupun tidak sesuai dengan impiannya.
Bagi mereka, yang penting adalah menjalani saja hidup dengan realita yang ada.

Kedua kondisi tersebut, tidaklah tepat untuk membangun sebuah hubungan sejati. Jika kita tetap hidup dalam impian, kita tidak akan pernah bisa mencintai dan dicintai, karena kita merasa bahwa tidak ada seorang pun yang sesuai dengan impian kita.Kita tidak pernah berani untuk melangkah masuk ke dalam suatu komitmen cinta.

Begitu pula jika kita mengalihkannya kepada “realita” karena tidak menemukan impian, maka kemungkinan besar kita hanya menjalani saja hidup apa adanya dengan pasangan yang kita pilih tersebut. Hubungan yang dijalin mungkin saja kurang hangat, tanpa arti, dan bahkan mungkin dapat menimbulkan penyesalan di kemudian hari. Dengan demikian bolehkah kita bermimpi?

Kenyataannya banyak pula orang yang akhirnya menemukan impiannya dalam kenyataan. Bagi mereka, apa yang dicari selama ini sesuai dengan kenyataan yang ada.

Namun, yang jadi masalah adalah bagaimana dengan mereka yang tidak pernah menemukan impian dalam kenyataan? Di manakah masalahnya?

Menurut saya, masalahnya terletak pada bagaimana kita membentuk mimpi tersebut. Jika kita membentuk mimpi tersebut berdasarkan romantisme cinta yang fantastis, yang tidak realistis, maka mungkin saja kita akan kecewa karena tidak pernah mendapatkannya dalam kenyataan.

Realita yang sering dihadapi mungkin saja tidak seromantis yang kita bayangkan. Beberapa prinsip yang mungkin dapat menolong kita dalam hal ini adalah sebagai berikut:
Fine tuning mimpi kita dengan realita. Fine tuning ini berarti kita harus memeriksa apakah “channel mimpi/idaman” kita sesuai dengan realita. Jika tidak sesuai, maka mungkin sebaiknya kita perlu memutar ulang channel agar lebih sesuai dengan realita.
Mayor vs minor. Kita perlu memahami dalam menentukan pilihan pasangan, manakah hal-hal yang utama (mayor) dan yang sekunder (minor). Kenalilah wilayah mana yang merupakan yang utama bagi kita
dan wilayah mana yang tidak utama.
Fokuskanlah diri dalam wilayah yang utama. Hal-hal lain yang sekunder harusnya tidak menjadi penghalang atau faktor penentu dalam hal menentukan pilihan.
Take the step. Impian akan tetap menjadi impian jika kita tidak berani mengambil langkah untuk mewujudkannya. Karena itu, mulailah dengan menjalin hubungan dengan orang- orang di sekitar Anda.
Mulailah bersahabat dan beranilah melangkah.

Sumber: Mengubah Mimpi Cinta Anda Menjadi Kenyataan oleh Evans Garey, Staf pengajar Fakultas Psikologi Universitas Kristen Krida Wacana, Jakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: