Malu!

22 May 2009

Resonansi oleh Zaim Uchrowi, Republika edisi 27 Mei 2005

Suatu ketika, pernah begitu berjaya dalam keseharian kita. Anak-anak biasa lari bersembunyi dibelakang ibunya (sambil terus berusaha mengintip) bila dipanggil namanya. Terkadang mereka tersenyum sambil menggoyang-goyangkan badan, sebelum kemudian perlahan menjulurkan tangan saat ditawari sesuatu. Pipi anak dara hampir selalu merona ketika diajak bicara tentang laki-laki idamannya.

Malu juga biasa ada pada orang dewasa. Dulu, banyak orang menutup diri beberapa hari dirumah setelah dirinya atau keluarganya terkait dengan apapun yang dianggap kurang pantas menurut penilaian lingkungan. Mereka baru akan keluar rumah setelah persoalan dianggapnya reda. Terkadang bertahun-tahun perjalanan waktu tak cukup buat menghapus malu. Sebagian bahkan mengusung rasa malu hingga ajal. Seolah malu adalah hal terpenting dalam hidupnya. Lalu jadilah bangsa ini bangsa pemalu.

Perlahan ‘keberjayaan’ malu pun tenggelam oleh waktu. Di zaman yang semakin terbuka, di zaman yang semakin menuntut kemampuan bersaing seperti sekarang, sifat malu sangat tidak menguntungkan. Bangsa pemalu dipandang tidak akan pernah dapat menjadi bangsa maju. Sifat yang lebih diperlukan untuk menghadapi ‘peradaban baru’ sekarang adalah berani.

Sebuah seruan yang layak dihargai karena memang tak akan ada kemajuan tanpa keberanian.

Lalu, kita berlomba untuk menjadi lebih berani dengan meninggalkan malu. Semakin sedikit anak-anak yang diajak berbincang.

Terutama di wilayah perkotaan. Apalagi anak-anak daranya dan orang dewasa. Malu telah menjadi bagian dari masa lalu. Masa sekarang adalah masa ‘pede’ alias percaya diri. Justru dianggap memalukan bila kita sekarang bersikap malu-malu disemua urusan.

Tapi tercampakkannya rasa malu bukan tanpa akibat. Anak-anak dara tidak malu untuk berlenggak-lenggok seronok dengan baju ‘kekecilan’. Semakin banyak yang memperhatikannya semakin suka ia. Misalnya di layar kaca yang menjadi perhatian jutaan pemirsa. Terutama setelah fenomena Inul, televisi semakin antusias menjual aksi para perempuan belia itu. Tak soal bila sebagian orang semakin malu menonton tayangan TV.

Orang-orang dewasa juga tak malu menjarah yang bukan haknya. Tak peduli orang itu intelektual, tokoh agama, atau yang digaji buat mengabdi pada rakyat.

Orang tak malu punya kekayaan bermiliar-miliar sedangkan satu-satunya pekerjaannya adalah pegawai negeri. Banyak penguasa hukum (polisi, jaksa dan hakim ) tidak malu menerima uang dari orang yang terkena perkara padahal ia dibayar untuk menjaga tegaknya keadilan pada perkara itu. Banyak pendidik yang mengelola sekolah negeri juga tak malu memungut uang dari anak didiknya. Bahkan, dari yang sangat miskin.

Tahun ajaran baru seperti yang segera datang justru dipandang sebagai sebuah kesempatan.

Banyak orang yang tidak lagi malu menginjak nilai-nilai yang semestinya dijaga tegak. Mereka memang masih punya malu.

Namun malu mereka adalah kebalikan dari yang disebut dalam kamus. Malu, menurut kamus, adalah “merasa tidak senang karena melakukan perbuatan tidak baik”. Malu seperti inilah yang disebut Rasul sebagai “sebagian dari iman”. Sedangkan malu mereka adalah bila tidak menumpuk harta atau dianggap tidak hebat oleh orang lain. Mereka siap melakukan apa saja agar tidak malu yang begitu itu, walaupan harus berbuat yang tidak baik. Mereka bahkan berani menantang ancaman pembakaran neraka yang jelas dipastikan oleh Tuhan.

Posisi malu dan berani (yang sudah sangat jelas) telah terjungkir balikkan sekarang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: