Sebingkai Cermin Lawan Bicara

28 May 2009

Lelaki tua itu berjalan perlahan, sesekali menundukan kepala, kemudian mengangkatnya kembali dan terus berjalan lagi. Tertatih-tatih menyeret tubuhnya yang renta. Pikirannya melompat jauh kedepan, hingga keujung jalan yang tak berkesudahan. Derita yang mendera membuatnya tabah, tak pernah berkeluh kesah. Hidup dijalaninya seperti air, mengalir bersama waktu, berjalan dalam diam, dari saat kesaat, tak menoleh kebelakang dan tak berharap banyak kedepan. Di ujung jalan dibawah pohon tua yang rindang, dia berhenti, menurunkan barang bawaannya, diatas sebuah meja tua dan mengaturnya. Pekerjaan ini dilakukannya sudah berpuluh-puluh tahun lamanya, pekerjaan yang sama, tak pernah berubah, hanya dirinya yang berubah, menjadi tua tak bertenaga.

Lelaki tua itu duduk disebuah bangku, menatap kedepan, tak berkedip, kearah sepenggal wajah. Wajah yang akhir-akhir ini sering kali ditatapnya, terutama sejak ia semakin tak bertenaga, tak berdaya, hingga memudarkan hampir semua gairahnya. Hidupnya seperti daun tua yang luruh kebumi, diterpa angina, melayang kesana kemari tak bertujuan pasti. Sepenggal wajah ini sudah sering kali berkata kepadanya, bahkan memaki si-lelaki tua. “Aku bukan dirimu!, walaupun kita lahir dari rahim yang sama dan hidup dalam ruang-waktu yang sama”.

Si lelaki tua diam, tak bereaksi, roman mukanya juga tak berubah, tak menampakan ekspresi apa-apa. Perkataan itu sudah sering kali didengarnya, diucapkan lawan bicaranya yang kini hadir lagi didepannya. Akhir-akhir ini si lelaki tua memang mulai menyadari bahwa apa yang dikatakan lawan bicaranya, benar juga. Tetapi si lelaki tua merasa tak berdaya meniadakan keinginan-keinginannya yang sudah melekat, menjadi darah dagingnya. “Ah”, keluh si lelaki tua. “Siapakah yang sanggup meniadakan keberadaan diri-nya sendiri?”

Ketika si lelaki tua itu menoleh kesamping, baru lawan bicara si lelaki tua itu tak lagi memandangnya. Namun si lelaki tua itu tak pernah merasa puas dengan dirinya sendiri, kemudian memandang lagi kedepan, menatap kepada lawan bicaranya.

“Kenapa kamu diam saja?” Lawan bicara si lelaki tua membentaknya, kemudian dengan lebih bersemangat lagi dia melanjutkan perkataannya: “Waktu itu pada awalnya, aku dan kamu satu jua dari benih yang sama, nikmat ujudnya, sebuah misteri energi yang diwariskan. Dari nikmat, kemudian hidup, tumbuh, bergerak, berkehendak dan tahu, ujud dalam sebuah pohon kehidupan. Kemudian menjadi ilmu, menjadi kesadaran diri, untuk menikmati hidup ini, mengada sebagai diri, padahal kehendak yang ujud asalnya nikmat jua, adalah ujud yang nisbi”.

Si lelaki tua itu terkenang masa mudanya. Ketika keinginan sangat berkuasa, menderanya untuk mencari semua kepuasan diri, menyatakan, mengekspesikan diri, “ini aku ada”. Rasa, perasaan dan pikiran menjadi kesadaran keberadaan diri, kemudian, berkehendak, berkuasa, menepuk dada, seperti Firaun yang tak lagi mengenal dan perduli dengan asal kejadian dirinya, dan lupa ada Tuhan yang berkuasa. Seandainya iblis tidak ada, yang mendera si lelaki tua dan semua manusia dengan segala macam penyakit, penderitaan, ketakutan dan putus asa, maka Firaun-firaun baru akan lahir kemuka bumi, membludak- banyak, tentu saja sesuai dengan kapasitas dan kemampuannya masing-masing.

Walaupn kini si lelaki tua itu sudah renta, rasa keberadaan dirinya tetap juga sama, hanya kemampuannya saja yang mulai memudar, disapu oleh usia, hilang satu persatu dari dirinya. Mulai dari giginya yang rontok, rambutnya yang mulai berwarna dua, hingga ingatannya yang kini mulai tak berdaya. Semua kemampuan yang dimilikinya suatu saat akan ditarik kembali dari dirinya, dan jika dia tak mengenal keberadaan sejati dirinya maka dia akan mati sia-sia. Kembali menjadi tanah, kembali keujudnya semula dalam proses penghancuran yang panjang dan menyakitkan yang disebut oleh agama sebagai neraka.

“Engau diam saja!”, sepenggal wajah menghardik si lelaki tua.
“Ya”, kata si lelaki tua lirih, “kini aku telah sadar, aku akan mencoba terus mencari dan mencoba untuk mengenalimu, tetapi ujudmu yang tak pernah kukenal sebelumnya, membuat aku hanya bisa menunggu, dan menunggu saja, sampai maut menjemputku dan memperkenalkan aku kepadamu”.
“Suatu saat pasti kau akan mengenalku dikehidupan ini, karena aku yang sejatimu juga yang selama ini kau biarkan, padahal aku yang lebih tahu untuk mengantarkanmu kepada jalan yang benar dan lurus yang sesungguhnya”.

Lelaki tua itu membalik cermin didepannya, dia tersenyum sendiri. “Lebih baik begini”, pikirnya, “biar aku tak melihatmu lagi”. Letih berbicara sendiri, si lelaki tua itu tertidur dibangkunya, menanti pelanggan memotong rambut, yang kini hanya tinggal beberapa orang saja, lelaki tua seperti dirinya.

Source: http://takbermakna.blogspot.com, posted by Ris Prasetyo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: